Aku pribadi merasa hubungan yang sudah hampir mau 2 tahun ini banyak perbedaan. Mulai dari soal Pendidikan, bukan maksud aku merendahkan nya, tapi terkadang ada di saat-saat tertentu, aku perlu apa untuk keperluan sekolah/kuliahku dan dia tidak mengerti, ini membuat aku merasa tidak terbantu, bahkan terkadang malah mengganggu. Meskipun dia sekarang kuliah, tapi aku belum melihat perbedaannya.
Aku menilai bahwa orangtuanya terlalu mementingkan hal yang sebetulnya bisa di stop dulu. Seperti membeli baju hampir setiap bulan sekali. Atau jalan-jalan sama teman-temannya. Terlalu banyak yang dibeli. Perhitungannya hanya untuk hari ini, tapi untuk hari esok atau lusa belum terencana.
Aku merasa kecewa karena dia berbohong soal keuangan. Yaaa memang aku hanyalah seorang pacar yang katanya bakalan dia nikahin, aku ikut campur masalah keuangannya bukan karena untuk aku jajan, tapi untuk memisahkan biaya kuliahnya. Tidak lebih. Aku tanya "Kamu mau nabung?" .. "Enggak, uang dekoran belum cair" .. "Uang kerja kemaren kamu kemana?" . "ada di rumah" .. "ada di rumah atau kamu beliin apa?" .. "Sebenernya buat beliin mama sepatu, sebagai anak yang baik" .. "Ok"
Sebelum menikah aja udah ngembunyiin sesuatu, apalagi sudah nikah.. Apa mau aku makan hati terus?
Yaaa sah saja kalau dia ngasih ke orangtua nya. Apalagi ibu nya. Tapi, tidak usah sembunyi-sembunyi, terus terang saja dari awal.
Semenjak mama ku nanya terus soal kapan mau melamar, dia jadi sering badmood. Kayaknya males buat ngomongin ini semua. Aku juga sudah bilang ke mama, kalau aku nggak mau buru-buru nikah, karena belum lulus kuliah, masih nggak punya uang, masih mau cari kerjaan lain, nunggu dia juga yang katanya lagi nabung buat resepsi.
Sudah muak ditanya kapan ngelamarnya, kapan mau nikah? Dan sampai pada akhirnya aku benar-benar males nikah. Apalagi dengan keadaan pacarku seperti ini.. Ketambah aku juga seperti ini.
Ku harap, mohon mengerti posisi ini
Nikah bukan perkara mudah
Nikah bukan cuma ngehalalin pacaran
Nikah bukan hanya sekedar resepsi
Terlebih Nikah adalah proses belajar kehidupan nyata dengan oranglain, kalau belum siap dari segi mental dan juga materil lebih baik puasa saja. Toh, pada akhirnya "mungkin" waktu tepat untuk menikah akan tiba. Sekarang ku nikmati saja, jangan mau buru-buru. Biar memilih dan dipilih oleh orang yang lebih tepat.
Aku menilai bahwa orangtuanya terlalu mementingkan hal yang sebetulnya bisa di stop dulu. Seperti membeli baju hampir setiap bulan sekali. Atau jalan-jalan sama teman-temannya. Terlalu banyak yang dibeli. Perhitungannya hanya untuk hari ini, tapi untuk hari esok atau lusa belum terencana.
Aku merasa kecewa karena dia berbohong soal keuangan. Yaaa memang aku hanyalah seorang pacar yang katanya bakalan dia nikahin, aku ikut campur masalah keuangannya bukan karena untuk aku jajan, tapi untuk memisahkan biaya kuliahnya. Tidak lebih. Aku tanya "Kamu mau nabung?" .. "Enggak, uang dekoran belum cair" .. "Uang kerja kemaren kamu kemana?" . "ada di rumah" .. "ada di rumah atau kamu beliin apa?" .. "Sebenernya buat beliin mama sepatu, sebagai anak yang baik" .. "Ok"
Sebelum menikah aja udah ngembunyiin sesuatu, apalagi sudah nikah.. Apa mau aku makan hati terus?
Yaaa sah saja kalau dia ngasih ke orangtua nya. Apalagi ibu nya. Tapi, tidak usah sembunyi-sembunyi, terus terang saja dari awal.
Semenjak mama ku nanya terus soal kapan mau melamar, dia jadi sering badmood. Kayaknya males buat ngomongin ini semua. Aku juga sudah bilang ke mama, kalau aku nggak mau buru-buru nikah, karena belum lulus kuliah, masih nggak punya uang, masih mau cari kerjaan lain, nunggu dia juga yang katanya lagi nabung buat resepsi.
Sudah muak ditanya kapan ngelamarnya, kapan mau nikah? Dan sampai pada akhirnya aku benar-benar males nikah. Apalagi dengan keadaan pacarku seperti ini.. Ketambah aku juga seperti ini.
Ku harap, mohon mengerti posisi ini
Nikah bukan perkara mudah
Nikah bukan cuma ngehalalin pacaran
Nikah bukan hanya sekedar resepsi
Terlebih Nikah adalah proses belajar kehidupan nyata dengan oranglain, kalau belum siap dari segi mental dan juga materil lebih baik puasa saja. Toh, pada akhirnya "mungkin" waktu tepat untuk menikah akan tiba. Sekarang ku nikmati saja, jangan mau buru-buru. Biar memilih dan dipilih oleh orang yang lebih tepat.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan jika ada pesan dan pesan