Pah...
Jika Tuhan dengan jelas memberi pertanda dan juga memberitahuku, kalau sebentar lagi Papa dijemput pulang, mungkin aku akan sampai menangis darah meminta pada-Mu untuk tidak menjemputnya terlebih dahulu.
Pah...
Titi rindu, nggak bisa lagi berkata banyak, Titi hanya ingin bertemu Papa, bagaimapun jalan Tuhan mempertemukan kami, hanya untuk berbincang beberapa hal saja.
Pah..
Kuliah Titi belum selesai, bagaimana ini bisa tidak menjadi sulit bagi Titi. Ketika besar harapan dulu kami sekeluarga akan pergi ke wisudaan ku lagi. Kalau Papa lihat catatan kecil, aku akan wisuda 2018, tapi nyatanya sekarang apa yang aku kerjakan begitu menjadi sulit. Dan catatan kecil itu Titi menulis untuk pergi umrah bersama Papa, Mama, Suami, Fitra dan Dante tahun 2019. Yang dengan pede nya aku yakin, kita akan pergi bersama. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Aku sekarang hanya memandangi tulisan itu dan menangis.
Pah..
Titi dan Mama banyak berkomunikasi, meskipun aku akan sering berhati-hati. Soal keluarga kami, tanpa Papa, yang tersisa hanya kami berempat, perempuan tanpa sesosok ayah. Ternyata perjalanan kami masih panjang, tanpa Papa aku berharap kita masih bisa kuat, meski tak akan sama seperti ketika Papa masih ada.
Pah..
Satu hal dari banyak hal yang akan membuat kami seakan sangat menjadi melankolis. Harus Papa tahu bahwa di hati kami (Titi, Keukeuk, Dante), pria yang paling kami sayang dan kami cinta hanyalah Papa, dan wanita yang paling kami sayang dan kami cinta hanyalah Bidadarimu, Pah...yaitu Mama.
Pah..
Akhir-akhir ini mama selalu menyuruhku agar segera menikah, dengan alasan agar semua cepat selesai satu per satu, tapi jika masih ada Papa, mungkin hal ini akan tidak terasa menjadi terburu-buru. Tapi, pah... sejujurnya aku masih belum siap, sebagai anak pertama tanggungjawabku semakin besar akan mengingat Mama yang harus ditemani, Keukeuk dan Dante yang masih kuliah dan sekolah. Aku tidak mau dianggap menjadi egois dengan cepat menikah agar aku memiliki teman hidup. Dan kalau aku boleh jujur, aku rela menikah dua atau tiga tahun lagi. Untuk mempersiapkan segalanya, tanpa harus merasa sangat khawair. Aku tidak ingin menambah beban pikiranku, aku tidak sepenuhnya siap memikirkan suamiku, aku tidak siap sepenuhnya memikirkan anak-ku nanti. Cukup untuk waktu sekarang ini aku memikirkan Mama, Keukeuk dan Dante.
Pah..
Pria itu telah ada, Papa tidak usah khawatir akan diriku, selama aku belum siap, aku akan menjaga diri. Papa tidak usah khawatir akan cinta ku yang akan selalu lebih besar kepadamu, tidak akan pernah ada yang bisa merebutnya darimu. Percayalah, Pah.. ini sedang berproses. Selama ini dia masih mengerti perasaanku, mengerti posisiku, dan mengerti keinginanku. Bila suatu hari, saatnya telah tiba aku harus menikah, ku mohon Yaa Alloh beritahu Papa, semoga Papa juga merestui, semoga Papa memberikan jawaban, melalui pertanda, apapun bentuknya.
Alfatihah, untuk Papa :*
Komentar
Posting Komentar
Silahkan jika ada pesan dan pesan