Karena setiap insan manusia selalu mendambakan keindahan, kebahagiaan dan juga kebersamaan. Tetapi, apakah hal ini begitu mudah untuk dirasakan, untuk segera dijalani dan untuk hari-hari yang penuh juga arti.
Karena detik, menit, jam dan hari-hari berlalu akulah menjelma orang yang penuh dengan pertanyaan. Mengendap-ngendap merasakan perjalanan. Berjalan normal sampai aku mengatakan bahwa aku benar-benar sadar, dan bahkan berlari sampai aku lupa diri apa yang sebenarnya terjadi.
Tak sedikit air mata hadir, membasahi lapangnya kulit pipi, disekat desir-desir angin yang juga mengering dengan sendirinya. Bersembunyi dibalik kotak persegi yang menjadi saksi akan gundah gulanah sang pemilik perasaan.
Tuhan... Aku menjerit-jerit dalam hati, sampai sesak dada ini berdebar. Ku rasa ada yang membuat aku tak bisa lega. Tapi, apa aku harus jua menyerah? Namun aku yakin menyerah bukankah menambah debar dada semakin bertambah sesak.
Tuhan... Aku menjerit lagi dalam hati, begitu berdosa jika aku menyerah pada cobaanmu. Maka dengan pikiran yang masih juga bimbang, ku bertanya, apakah dengan ini Kau jadikan aku seorang perempuan yang lebih kuat dari baja besi? Dan apakah dengan perjalanan ini pada akhirnya aku akan menemukan bayagan indah yang menjadi nyata itu?
Kala ku pejamkan mata, ku harap mimpi-mimpi indah itulah yang akan menjadi nyata.
Teruntuk, Fazhar
Dikala kekasihmu tak sanggup lagi berkata,
dan raga ini yang selalu ingin hadir disampingmu.
Karena detik, menit, jam dan hari-hari berlalu akulah menjelma orang yang penuh dengan pertanyaan. Mengendap-ngendap merasakan perjalanan. Berjalan normal sampai aku mengatakan bahwa aku benar-benar sadar, dan bahkan berlari sampai aku lupa diri apa yang sebenarnya terjadi.
Tak sedikit air mata hadir, membasahi lapangnya kulit pipi, disekat desir-desir angin yang juga mengering dengan sendirinya. Bersembunyi dibalik kotak persegi yang menjadi saksi akan gundah gulanah sang pemilik perasaan.
Tuhan... Aku menjerit-jerit dalam hati, sampai sesak dada ini berdebar. Ku rasa ada yang membuat aku tak bisa lega. Tapi, apa aku harus jua menyerah? Namun aku yakin menyerah bukankah menambah debar dada semakin bertambah sesak.
Tuhan... Aku menjerit lagi dalam hati, begitu berdosa jika aku menyerah pada cobaanmu. Maka dengan pikiran yang masih juga bimbang, ku bertanya, apakah dengan ini Kau jadikan aku seorang perempuan yang lebih kuat dari baja besi? Dan apakah dengan perjalanan ini pada akhirnya aku akan menemukan bayagan indah yang menjadi nyata itu?
Kala ku pejamkan mata, ku harap mimpi-mimpi indah itulah yang akan menjadi nyata.
Teruntuk, Fazhar
Dikala kekasihmu tak sanggup lagi berkata,
dan raga ini yang selalu ingin hadir disampingmu.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan jika ada pesan dan pesan