Telat lagi telat lagi posting di Blogger, kebiasaan yang tak pernah bisa aku lawan, yaitu ngantuk dan malas. Tanggal 29 Oktober 2014, dimana hari itu hari Rabu, tepat sekali free dari jadwal kuliah. Planning dari hari selasa kalau hari rabu aku akan pergi ke Tupperware untuk membeli sesuatu karena disuruh Mama, setelah itu pergi ke BIP atas dasar disuruh mama juga untuk melihat-lihat tas kantor. Dan planning yang tak terduga-duga adalah jalan-jalan ke Taman Pustaka Bunga. Kebetulan hari itu suasana Bandung memang agak bersahabat, matahari tak muncul begitu terik, mungkin agak mendung tapi tak hujan. Dunia sungguh indah jika cuacanya begitu menyejukan.
Tak lama dari BIP Jalan Merdeka, akupun sampai di Taman Pustaka Bunga. Aku memarkirkan motor, tanpa tak sengaja aku melihat BANDROS berwarna merah, karena saking penasarannya, aku tak pikir panjang langsung bertanya pada Bapak Parkir, "Pak, aku mau naik BANDROS. Gimana caranya?" dengan tidak memikirkan rasa gengsi, "Minta tiket dulu neng ke Bapak di saung itu, nanti naik trus banyar di Bus" kata Bapak parkir. "Oiia, pak. makasih". Aku pun berjalan menuju saung di Taman Pustaka Bunga, tapi betapa dikerumuni banyak ibu-ibu bapak penjual tiket BANDROS itu, yang akhirnya aku agak mengurungkan niat. Aku hanya melihat orang-orang menaiki BANDROS dengan wajah ceria nan bahagia. Karena rasa kekecewaan-ku, akupun mengobatinya denga berjalan-jalan ke dalam taman sambil WIFI gratis (Curhat). Cukup lama aku duduk di Taman Bunga Pustaka, dengan berfikir ulang bagaimana untuk menaikin BANDROS itu.
Setengah jam berlalu, pukul 13.00 BANDROS pun tiba kembali. Aku penasaran, segera aku berjalan ke depan dekat jalan, aku lihat BANDROS penuh. Aku memberanikan diri bertanya pada ibu-ibu.
Aku : Bu, udah naik BANDROS?
Ibu : Ini baru mau nyoba neng
Aku : Ibu udah dapet tiketnya?
Ibu : Udah neng
Aku : Cara dapet tiketnya gimana?
Ibu : Ke Bapak itu, tapi sekarang udah habis tiketnya, banyaknya yang kolektif neng
Aku : Oh gitu ya bu..
Aku sudah benar-benar mengurungkan niat agar tidak jadi naik BANDROS
Ibu : Neng mau naik BANDROS?
Aku : Iya, bu.. tapi kalau tiketnya habis nggak apa-apa, bisa lain waktu
Ibu : Neng sendirian? Kalau neng sendirian nih ambil aja tiket punya ibu, ibu masih punya dua lagi
Ibu itu sambil menyodorkan satu tiket berwarna hijau kepadaku
Aku : Ah, ibu seriusan? Ini punya siapa? Nggak apa-apa ini bu?
Ibu : Beneran neng, pake aja nggak apa-apa. Sok neng sekarang aja kesana, tuh mumpung masih agak lowong, sendiri pasti bisa
Aku : Beneran nih bu? Ibu dari mana?
Ibu : Beneran, ibu dari rombongan SD Toha. Bilang aja SD Toha Rombongan
Aku : Iya, bu.. Bu makasih banyak ya.. makasih banget bu
Aku berjalan dengan buru-buru menuju BANDROS, dan bertanya pada bapak pemandu BANDROS yang akhirnya akupun bisa naik BANDROS. Wah senangnya... Aku-pun melambaikan tangan pada ibu-ibu yang memberi-ku tiket. Ini yang dinamakan rezeki tak akan kemana.
Naik BANDROS seneng, bahagia, berasa jadi artis satu jam setengah, disepanjang jalan dilihatin banyak orang, semua tersenyum melambaikan tangan, wah BANDUNG si kota kelahiran-ku ini memang menyimpan banyak kebahagiaan :) Bapak Emil, terimakasih membuat BANDUNG The Best.
Ini sedikit Foto ketika naik BANDROS :
Saat Melewati Jalan Ir. H. Djuanda atau lebih dikenal dengan Dago
Saat melewati Jalan Braga, penumpang diatas bisa berdiri foto-foto, karena di Jalan Braga tak ada ranting-ranting
Masih dijalan Braga
Aku dijalan Braga
Didalam BANDROS
BANDROS selalu dipenuhi Touris Bandung itu sendiri :)






Komentar
Posting Komentar
Silahkan jika ada pesan dan pesan